Senin, 03 Februari 2014

Dilema mahasiswa putus kuliah

Kuliah sambil bekerja. Pasti akan mendapatkan
pengalaman yang lebih bermakna ketimbang mahasiswa-
mahasiswa lain yang pengangguran. Saya sendiri sangat
iri pada mereka yang bisa kuliah sambil bekerja. Ingin
saya lakukan hal yang sama. Tetapi sayangnya
sepertinya saya tak mampu. Enaknya kuliah sambil
bekerja adalah mereka bisa mengambil pengalaman
bekerja menjadi studi kasus di kampus. Mahasiswa-
mahasiswa yang sudah bekerja pasti akan kelihatan
berbeda dengan mahasiswa-mahasiswa yang belum
bekerja. Mereka lebih dewasa dalam penampilan dan
sikap walau di wajahnya tergurat kelelahan yang tiada
tara. Bagaimana tidak? Seharian diisi dengan sejumlah
kegiatan yang mau tak mau harus diperhatikan ekstra.
Terkadang masalah perkuliahan pun menjadi keteteran.
Jika ada orang yang bekerja ingin menyesuaikan minat
dan salary dari pekerjaan itu. Namun untuk mahasiswa
rasanya tidak etis membuat patokan tinggi seperti itu.
Mahasiswa hanya bisa menyesuaikan waktu kuliah dengan
jam kerja. Masalah gaji asalkan cukup untuk menutupi
kebutuhan sehari-hari. Syukur-syukur ada lebihnya
pasti akan lebih bermanfaat.
Teman-teman saya sendiri ada yang sudah bekerja. Ada
yang sebagai tenaga honorer di perusahaan swasta atau
negri, tenaga privat, berjualan pulsa (biasanya disebut
counter pulsa berjalan... Hehehe), ada yang jadi guru
bahkan ada yang memang sudah menjadi PNS.
Pekerjaan yang cocok menurut saya untuk mahasiswa
adalah sebagai berikut:
Penjaga warnet, Kalau pakai shift maka mudah untuk
membagi waktu.
Bisnis MLM, susahnya sewaktu menagih kayaknya...
Hehehe...
Guru private, biasanya hanya untuk mengajari anak-
anak SD.
Pramusaji, terkesan sepele tetapi gaji pasti sangat
mencukupi.
Dancer, pekerjaan ini pasti untuk anak pergaulan.
Penyiar radio, pekerjaan mahasiswa terkeren menurut
saya.
Bisnis online (Teman saya ada juga tuh menjadi reseller,
FB-nya yang sudah lama tidak dipakai akhirnya dipakai
lagi untuk promosi) Bisa juga memang untuk menjual
produk sendiri.
SPG, biasanya SPG rokok atau kartu perdana.
Penulis online, melamar ke portal media online dan
menjadi penulis konten website perusahaan.
Dan lain sebagainya.
Sangat strategis bekerja sambil kuliah bila:
Perkuliahannya memiliki beberapa sesi. Seperti kampus
tempat saya ada kelas pagi, kelas siang dan kelas
malam.
Jarak. Antara tempat pekerjaan, kampus dan rumah.
Pekerjaan dan ilmu yang didapat relevan
Dan lain sebagainya ( Silahkan kalau ingin menambahkan)
Masih banyak lagi pekerjaan yang cocok untuk mahasiswa
menurut saya. Yang bisa menambah-nambah uang jajan
dan administrasi perkuliahan. Tidak hanya membuat kita
senang, pasti juga membuat orangtua bangga
mempunyai anak yang mandiri. Meski harus pintar-pinta
membagi waktu. Agar tidak ada satupun dari keduanya
terabaikan. Hidup memang keras, dan orang mandiri
tidak akan pernah mati sia-sia di tengah kerasnya
hidup.
Namun bagaimana jika yang bekerja adalah seseorang
yang sebenarnya pemalas dan tidak pernah serius
melakukan segala hal? Seperti kisah teman saya, bulan
Agustus lalu dia mengatakan pada saya bahwa dia akan
bekerja sebagai tenaga guru honorer di salah satu SD
negeri. Yang pertama kali saya tanyakan adalah,
"Emang mampu?" . Dia menjawabnya bertele-tele dan
seperti saya tidak mengenal sifat aslinya.
Singkat cerita, terhitung semenjak September lalu dia
sudah tidak pernah hadir lagi ke kampus. Saya SMS
pasti dia jawab sedang mengurus pekerjaannya.
Terkadang dia menjawab sedang sakit, sedang mengajar
les sore dan bla bla bla. Pada akhirnya mendekati UTS,
saya tanya serius supaya dia buru-buru melaporkan ke
bagian pendidikan. Karena menurut saya sangat sia-sia
bila di Tingkat III ini mesti berhenti kuliah karena
pekerjaan. Tetapi dia menjawab ogah-ogahan dan malah
mengajak saya turut repot dalam masalahnya. Selama
ini kemana saja? Ok. bekerja tetapi kok kekeuh tetap
bekerja sementara karena pekerjaan yang ternyata f ull
time karena turut mengajar pelajaran tambahan
membuat perkuliahannya terbengkalai?
Dari awal saya sudah ragu dia untuk bekerja serius!
Saya sudah tidak mempercayai dia. Bukannya sepele,
tapi coba bayangkan. Tidak bekerja saja terkadang
absen kuliahnya bolong-bolong, sakit kepala sedikit saja
sudah SMS saya minta dipermisikan. Saudara datang
berkunjung ke rumahnya saja, dia permisi dari kampus.
Lha? Kuliah sambil bekerja? Bagaimana ceritanya?
Lagipula sangat sayang rasanya sudah Tingkat III dia
menyia-nyiakannya. Kalau saja dia membuat
permohonan cuti setahun pasti itu lebih enak
kedengarannya. Nah, ini apa coba? Mengurusnya saja
dia malas.
Itu contoh dilema kuliah sambil bekerja yang dilakukan
oleh orang yang salah. Orang yang tepat menurut saya
adalah orang yang bisa menjaga waktunya, tak apalah
absennya bolong-bolong sedikit. Asalkan tidak langsung
berhenti kuliah tanpa alasan yang cerdas.
Bagaimana pun saya salut pada mereka yang bisa
melakukannya dengan sangat mandiri tanpa mengeluh
sedikit pun. Sekali lagi saya katakan. Hidup memang
keras, dan orang mandiri tidak akan pernah mati sia-sia
di tengah kerasnya hidup.
Semoga bermanfaat...
Terimakasih sudah membaca...!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar